Home / Indonesia / Travel Note

Pasar Di Kota Seribu Sungai

Berdiri pada 24 September 1526, di masa lalu , Banjarmasin sudah tersohor sebagai pusat persinggahan kapal-kapal dari berbagai kerajaan di seluruh nusantara. Pelabuhan  ini merupakan titik pertemuan aliran sungai Barito, Kuin hinggga Kelayan.

Banjarmasin terletak di tepian timur Sungai Barito dan dibelah Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus. Kawasan ini tercatat memiliki 60 sungai dan sekitar 25 pulau kecil.

Keberadaan Sungai Barito dan anak-anak sungainya inilah yang membuat Banjarmasin dijuluki Kota Seribu Sungai. Selama lebih dari 480 tahun, orang Banjar menggantungkan kehidupannya pada sungai-sungai ini. Bahkan kegiatan ekonomi seperti transaksi jual beli kebutuhan sehari-hari pun dilakukan di sungai. Uniknya transaksi tersebut mereka lakukan di atas perahu kayu yang dalam bahasa Banjar disebut jukung. Kini, tradisi keseharian ini menjadi daya tarik budaya tersendiri. Pasar terapung yang paling dikenal adalah Pasar Terapung Muara Kuin.

Tidak sulit menyambangi Pasar Terapung Muara Kuin. Pengunjung dapat menggunakan angkutan umum dari Banjarmasin menuju Desa Alalak. Setelah itu, sebuah perahu kayu yang disebut kelotok yang digerakkan mesin akan membawa Anda berkeliling pasar terapung. Perahu kayu bermuatan 15 orang tersebut mengenakan biaya sekitar Rp.70.000 untuk bisa berkeliling pasar.

Setiap hari ratusan jukung berseliweran di muara Sungai Kuin. Bersaing dengan perahu-perahu besardan berkutat dengan riak yang mengombang-ambingkan jukung berisi barang dagangan. Meskipun tampak tidak stabil, para pedagang yang didominasi kaum hawa ini ternyata sangat mahir mengendalikan jukung. Mereka juga gesit mengayuh jukung dan menyambut setiap pembeli.

Aktivitas di pasar terapung ini dimulai pukul 03.00 dan berakhir 07.00. Maka apabila anda ingin melongok geliat transaksi di pasar ini, bangunlah lebih awal. Di pasar Terapung Muara Kuin, Anda bisa menemukan berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Mulai dari sayuran, buah-buahan, ikan hingga camilan khas Banjar, yakni wadai. Jangan pula lewatkan kesempatan untuk menikmati semangkok Soto Banjar yang lezat, di atas warung terapung. Tidak sulit mencari Soto Banjar di sekitar pasar terapung ini. Sebagian besar dari warung-warung terapung ini memasang papan nama besar di atas perahunya. Salah satunya, Anda bisa menyambangi Warung Soto Banjar Ttamba Lapar yang cukup terkenal di sekitar pasar terapung ini. Sembari berwisata kuliner, Anda juga akan disuguhi pemandangan rumah-rumah terapung warga Banjar yang disebut Rumah Lanting yang berjejer di sepanjang tepi sungai.

Di Pasar Terapung Muara Kuin, masih sering terjadi barter atau tukar menukar barang, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk.

Seiring perkembangan zaman, pamor Pasar Terapung Kuin semakin memudar. Jumlah pedagang semakin sedikit, apalagi pemerintah Kota Banjarmasin membangun pasar tradisional di dekat pasar terapung. Maka untuk melestarikan keberadaan pasar terapung, Pemkot Banjarmasin mengadakan Festival Budaya Pasar Terapung yang digelar setiap tahunnya.

Sumber : Majalah Tamasya, edisi Agustus 201

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s